Memories Remain (Ingatan masa lalu)
Ketika saya masih anak2 dan baru memulai untuk bersekolah, apa yang paling saya ingat adalah ketika saya masih bermain di rumah dan kemudian tiba2 diajak untuk bersekolah ditingkat Taman Kanak-kanak (TK). Hanya sedikit hal yang bisa saya ingat pada saat itu, kegiatan saat sekolah bahkan hampir tidak bisa saya ingat, hanya kenangan yang kurang menyenangkan yang masih saya ingat ketika saya menjadi korban bullying oleh anak lain dan kemudian saudara sepupu saya menjadi pahlawan saya karena membalaskan apa yang menimpa saya pada saat itu. Ada mainan ayunan dari kayu yang bentuknya seperti kapal2an hanya saja lebih seperti dua papan sejajar yang alasnya berbentuk radius dan diantara kedua papan itu diatasnya ada seperti bangku yang bisa dinaiki untuk bermain jungkat jungkit. Permainan itu saya tidak berani naik karena hanya mereka anak2 yang mungkin menurut saya bandel yang berani naik, dan kemudian bermain dengan diayun sangat kencang dan itu menurut saya sangat berbahaya. Sebenarnya untuk berangkat sekolah di TK (karena saya tinggal di pedesaan) bukanlah tempat yang dekat, membutuhkan waktu kira2 10 menit untuk sampai dengan berjalan kaki dan jangan berharap pada saat itu sudah seperti sekarang dimana ketika berangkat sekolah diantar naik motor. Tahun 1983 itu motor masih barang langka.
Dari situ saya suka mengikuti perkembangan anak saya, kakak umur 11 tahun kelas V sedangkan adik umur 8 tahun kelas II, masih belum lama sejak mereka mulai masuk sekolah TK sampai saat ini. Pada dasarnya mungkin karena terus berkembang maka banyak memori yang tidak diingat bahkan ketika mereka masih TK, bahkan mungkin dengan teman2nya masa TK mereka sudah lupa. Dari kedua anak saya yang Kakak sudah mulai memiliki ingatan akan masa lalunya dengan lebih baik, mungkin ingatan mulai mudah tersimpan ketika mereka sudah berumur diatas 7 tahun, dimana kegiatan yang mereka lakukan bersama seperti ketika tamasya ke pantai jauh lebih diingat secara detail oleh kakaknya daripada adik. Begitupun ketika kegiatan kakaknya dimasa lalu dimana saat itu beberapa kali pulang kampung dengan naik pesawat tidak diingat oleh kakak. Saat ini praktis kegiatan bepergian dilakukan dengan kendaraan pribadi. Ada satu sifat dasar dari kakak dimasa kecil yang dia sendiri sudah tidak ingat, yaitu takut kalau berada dilingkungan yang asing, tertutup dan ramai seperti halnya di dalam pesawat, didalam kereta maupun ketika masuk kerumah orang lain. Dulu saya ingat betapa repotnya ketika bepergian dengan kereta api, bus dan pesawat karena kakak pasti akan menangis dan tidak bisa diam sampai ketika kendaraan itu bergerak dan dia tertidur karena capek menangis (mungkin). Kejadian itu sama sekali sudah tidak diingat oleh kakak, sehingga memang menurut saya secara umum ingatan ketika masih berumur dibawah 7 tahun mungkin tidak akan terdokumentasikan dalam ingatan anak, hanya beberapa ingatan kecil yang masih tersimpan dan itu tidak tahu ingatan yang mana.
Dari tulisan diatas ada beberapa korelasi/hubungan antara tumbuh kembang otak dan ingatan yang nantinya akan mempengaruhi kemampuan akademis mereka. Ketika masih sekolah TK praktis hanya menghapal sesuatu yang ringan2 saja dan itupun dalam waktu tidak lama mereka akan lupa, contoh sederhana saat adik mendapat tugas untuk menghapal lagu daerah, saat itu saya sering bernyanyi bersama adik untuk membantunya menghapal untuk tugas tersebut. Yang paling menarik adalah, setelah kisaran setahun dimana saya masih menghapal dengan sangat baik lagu itu, tetapi anak saya bahkan sudah tidak ingat dan bahkan tidak tertarik lagi untuk menyanyikanya. Demikian juga untuk kakak, waktu masih TK bahkan ketika menampilkan pentas menari, bahkan masih kacau sekali. Padahal ketika SD beberapa kali kakak ikut diacara pentas sekolah dan pernah menjadi perwakilan sekolah disebuah acara di kota. Untuk itu saya merasa bahwa masa pendidikan dan masa pertumbuhan otak serta ingatan memang menjadi mutlak sangat penting terutama saat mereka beranjak dari balita memasuki usia anak-anak, jika pada masa itu kita kurang memperhatikan maka perkembangan mereka nantinya ketika masuk ke jenjang lebih tinggi akan terpengaruh, meskipun nilai akademis kadang tidak berbanding lurus dengan masa lalu (misa masa lalunya dari sekolah yang kurang baik mutu pengajaranya).
Saya mungkin beruntung karena pada saat anak2 saya dimasa yang masih berkembang saya memiliki banyak waktu untuk ikut serta dalam mendukung mereka, meskipun itu juga berbanding terbalik dengan kondisi finansial keluarga saya, tetapi saya tetap bersyukur dan saya berharap itu memang yang paling baik untuk perkembangan anak-anak saya nantinya. Kakak dulu waktu masih kelas 1 sampai kelas 3 prestasinya biasa2 saja, cenderung datar dan tentu saja mendapat efek karenanya yaitu marah Ibunya. Istri saya (kadang saya merasa terlalu keras) memang keras dalam mendidik anak saya, nilai dibawah 9 tentu saja akan mendapatkan semprotan, padahal menurut saya itu juga sudah cukuplah bahkan sampai suatu saat, setelah hasil ulangan diumumkan karena saya yang menjemput kakak, kakak mengeluh hasil ulanganya kurang baik nilainya hanya 7 waktu itu, dan kakak berkata kepada saya bahwa kakak takut, saya tahu saat itu kakak benar2 takut akirnya terjadilah seperti yang diperkirakan. Itu adalah sedikit bumbu dari sejarah pendidikan anak saya, yang kemudian membuat saya agak heran adalah setelah naik ke kelas 4 dimana nota bene untuk sekolah dengan sistem tematik rumornya adalah masa paling sulit bagi anak, justru kakak malah tampil perkasa dan bisa menjadi juara tingkat tidak hanya juara kelas, mengungguli anak2 lain yang dilunya jauh lebih berprestasi. Tentu saja masalah kemampuan intelektual anak tidak akan bisa dilogika dan sulit untuk di rumuskan, misalkan dengan stimulasi untuk terus diikutsertakan bimbingan belajar yang ketat, toh untuk kakak pada saat itu saya tidak mampu untuk membiayai untuk ikut bimbel atau kursus apapun dan prestasi kakak terbukti tidak ada hubunganya dengan itu semua.
Ada hal dasar yang ingin saya bagikan disini, saya ingat salah satu dialog dalam sebuah film, sepertinya Taken 1, yang salah satu intinya adalah saat anak kamu masih kecil belum remaja, luangkanlah sebanyak waktumu untuk mereka, karena setelah mereka remaja kita akan kehilangan mereka, karena mereka akan lebih asik dengan dunia mereka dan mulai meninggalkan ketergantungan dari orang tua. begitu juga dalam hal ingatan, ketika mereka mulai memiliki ingatan yang kuat diumur selepas balita, akan sangat membekas bagaimana kita memberikan waktu dan kasih sayang bagi mereka, memberikan waktu untuk membantu mereka belajar tentang apa saja tidak hanya tugas sekolah. Jika anda sering bersama anak diumur balita akan banyak sekali pertanyaan sepele yang mereka tanyakan yang bahkan terkadang terlalu konyol untuk dijawab. Tetapi itulah awal dari masa dimana mereka mulai memiliki ingatan yang kuat, ingatan yang mereka terima saat mereka menginjak masa pertumbuhan otak dan pertumbuhan ingatan, jangan sampai menyesali ketika mereka justru mendapatkan ingatan dan pembelajaran yang salah dan liar.
"Luangkan waktu kita sebagai orang tua untuk memberikan ingatan yang indah bagi anak kita dimasa depan mereka nanti, jangan lakukan kesalahan yang sama dengan yang sudah kita terima atau yang sudah kita dapatkan, berikan yang lebih baik dan terbaik untuk anak kita untuk kehidupan yang nantinya jauh lebih baik"
Comments
Post a Comment